prestasi.ipb.ac.id

Kunjungi IPB, Ditmawa UI Pelajari Strategi Pembinaan PKM PIMNAS

BOGOR – Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni (Ditmawa) Universitas Indonesia (UI) melakukan kunjungan studi tiru ke IPB University pada Selasa, 5 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di Collaboration Room Lembaga Sistem Informasi (LSI) IPB yang dihadiri oleh lebih dari 20 perwakilan Ditmawa UI dan 10 perwakilan Ditmawa IPB. Pada kunjungan ini, diskusi difokuskan pada strategi pembinaan PKM PIMNAS termasuk kiat sukses dalam menggaet minat mahasiswa untuk mengikuti program PKM hingga kolaborasi berbagai pihak untuk memaksimalkan pendampingan PKM PIMNAS. Diskusi diawali dengan pemaparan overview program pembinaan PKM PIMNAS IPB oleh Dr. Syaefudin, S.Si., M.Si. selaku Asisten Direktur Pengembangan Reputasi dan Prestasi Mahasiswa (PRPM) IPB dan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama seluruh peserta. 

PKM-PIMNAS Jadi Prioritas IPB

Asdir PRPM IPB, Dr. Syaefudin, S.Si., M.Si. atau yang akrab disapa Pak Syae, memaparkan bahwa dari tujuh program utama PRPM, PKM-PIMNAS menempati posisi teratas sebagai prioritas. Mengingat PKM dikenal sebagai program kompetisi dengan waktu panjang yang memerlukan komitmen tinggi serta militansi para pesertanya, berbeda dengan kompetisi-kompetisi lain dengan waktu yang lebih singkat dan hasilnya bisa dilihat dalam hitungan minggu. “Penempatan ini didasarkan pada kebutuhan koordinasi yang melibatkan banyak stakeholder dan perlunya pembinaan yang lebih intensif,” ujar Pak Syae dalam sesi diskusi. 

Kompleksitas PKM PIMNAS menjadikan program ini cukup diprioritaskan. Dibandingkan dengan program lain, PKM membutuhkan keterlibatan simultan dari berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, dosen pendamping, dosen reviewer, hingga unit-unit teknis di tingkat fakultas dan universitas. Tanpa koordinasi yang baik sejak awal, potensi mahasiswa yang sebenarnya mumpuni pun bisa terbuang begitu saja di tengah jalan.

Lebih lanjut, Pak Syae menekankan bahwa PKM bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sebuah proses pembentukan karakter ilmiah mahasiswa. Proses panjang mulai dari penulisan proposal, revisi, pelaksanaan kegiatan, hingga presentasi di hadapan juri PIMNAS dinilai mampu menempa kemampuan berpikir kritis, kerja tim, dan ketahanan mental mahasiswa secara bersamaan. Oleh karena itu, IPB memandang investasi waktu dan sumber daya yang besar dalam PKM sebagai sesuatu yang sepadan dengan hasil jangka panjangnya.

Strategi Gaet Minat Mahasiswa

Pihak UI mengakui adanya tantangan tersendiri dalam menarik minat mahasiswanya untuk mengikuti PKM, mengingat kecenderungan mahasiswa UI yang lebih menyukai kompetisi berdurasi singkat dibanding program jangka panjang seperti PKM. Kondisi ini sebetulnya juga dialami IPB, sangat terlihat pergeseran minat mahasiswa dalam berkompetisi. 

Muhammad Agung Sedayu, Ketua PKM Center IPB turut berbagi sejumlah strategi yang telah berhasil diterapkan. Di antaranya adalah memperkenalkan PKM sejak Orientasi Mahasiswa Baru juga melalui program Prestasi Goes to You (PGTY) yang digelar di fakultas-fakultas, mewajibkan mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah untuk berpartisipasi dalam PKM minimal unggah proposal di tahap nasional, serta menyediakan fasilitas penyetaraan SKS dan insentif yang disesuaikan dengan tahapan keterlibatan mahasiswa dalam program ini.

Tidak hanya itu, sejumlah penyesuaian kegiatan turut diterapkan untuk menumbuhkan iklim kebersamaan sekaligus membangkitkan semangat kompetitif mahasiswa. Salah satunya adalah pelaksanaan kegiatan konsultasi, revisi, dan unggah proposal secara bersama-sama di auditorium, sehingga mahasiswa dapat merasakan atmosfer kolektif yang mendorong motivasi mereka.

Agung juga menyoroti keunggulan struktural IPB yang secara tidak langsung mendukung ekosistem PKM. “Secara tidak langsung, IPB telah menumbuhkan potensi kolaborasi mahasiswa sejak tingkat satu dengan adanya sistem PPKU (Program Pendidikan Kompetensi Umum), yaitu kondisi perkuliahan yang melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas dalam satu kelas sehingga potensi kolaborasi berbagai keilmuan sangat memungkinkan” ujarnya.

Koordinasi Lintas Direktorat Jadi Kunci

Dalam sesi diskusi, Pak Syae juga menekankan bahwa keberhasilan PKM IPB tidak lepas dari koordinasi yang kuat lintas unit. Selain peran sentral mahasiswa sebagai pelaku utama, peran serta dosen pendamping dan dosen reviewer juga sangat dibutuhkan. Dukungan teknis dari PIC tingkat fakultas juga teknisi laboratorium juga sangat penting untuk memastikan program berjalan lancar. 

Sesi tanya jawab turut membahas mekanisme penyetaraan SKS bagi mahasiswa yang terlibat dalam PKM. Di IPB, panduan multi aktivitas K2020 menjadi acuan bagi mahasiswa dalam menyetarakan aktivitas kompetisi maupun non kompetisi dengan output keahlian softskill dan hardskill yang setara pembelajaran di kelas, meskipun keputusan akhir penyetaraan tetap bergantung pada kebijakan masing-masing program studi.

Studi tiru ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi UI dalam memperkuat ekosistem PKM di lingkungannya, sekaligus mempererat sinergi antar perguruan tinggi dalam pengembangan prestasi mahasiswa di tingkat nasional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top