BOGOR – Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang bergabung dalam komunitas Student English Society (SENSE) di bawah Sub Direktorat Pengembangan Reputasi dan Prestasi Mahasiswa, Ditmawa sukses berpartisipasi aktif dalam rangkaian acara bergengsi “Water Impact Week Festival”. Acara yang menandai 25 tahun dampak kerja sama air antara Indonesia dan Belanda ini diselenggarakan di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta. Sebanyak 13 anggota SENSE mengikuti dua agenda utama yang menuntut kreativitas dan wawasan global, yakni kompetisi inovasi “Water Youth Challenge” dan sesi diskusi inspiratif “Water Impact Week Festival Talkshow”. Kehadiran mahasiswa IPB dalam festival ini merupakan bentuk nyata dari kontribusi generasi muda dalam menjawab tantangan krisis air dunia. Melalui kemampuan komunikasi bahasa Inggris yang mumpuni, para peserta mampu berinteraksi dan menyerap ilmu dari berbagai pakar lintas negara.
Kegiatan dimulai dengan “Water Youth Challenge”, sebuah lokakarya intensif yang menantang mahasiswa tingkat universitas untuk membedah aspek kompleks komunitas pesisir melalui perspektif life-centred design. Bertempat di Ruang Museumplein, delegasi IPB bersama total 25 mahasiswa pilihan lainnya yang terbagi dalam lima tim lintas disiplin, mendalami studi kasus mengenai perubahan pesisir yang drastis di Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat. Dalam lokakarya yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, para peserta ditantang untuk memahami koeksistensi antara manusia dan non-manusia (lingkungan). Berdasarkan referensi video dari “Immersing in Muaragembong” dan publikasi ilmiah terbaru tahun 2025, mahasiswa IPB merumuskan solusi kreatif yang dituangkan dalam bentuk poster ukuran A1. Puncak dari tantangan ini adalah sesi presentasi pada sore hari di mana kualitas informasi, kerja sama tim, dan estetika visual menjadi indikator penilaian utama.
Semua anggota SENSE berpartisipasi aktif dalam sesi diskusi dan presentasi. Dua mahasiswa IPB yang bernama Safiandra Pasha Samiaji dan Luna Islami Haifa yang tergabung dalam satu kelompok bersama tiga mahasiswa dari UIN berhasil mendapatkan Winner of Youth Water Challenge 2026 Prize Muara Gembong Day Trip. Pasha, Luna, dan tim membahas tentang “cohabitation between humans and lutungs in Muara Gembong”, berfokuskan pada bagaimana manusia dan lutung sebenarnya sama-sama bergantung pada ekosistem air dan mangrove yang sama, tetapi sama-sama terdampak karena kualitas lingkungannya terus menurun. Proyek “Speculative Digital Storytelling Platform” yang dinamakan “tole.log” ini, mengangkat sudut pandang seekor lutung bernama Tole sebagai “aktivis” yang menyuarakan krisis ekologis di Muara Gembong, mulai dari air yang melimpah tetapi tidak layak konsumsi, perubahan kualitas daun pidada sebagai sumber makanan, sampai feeding ground yang makin menyempit akibat degradasi mangrove. Proyek ini menegaskan bahwa masalah di Muara Gembong bukan sekadar konflik antara manusia dan satwa, melainkan sebuah krisis ekologi bersama (shared ecological crisis). Baik manusia maupun lutung kini dipaksa untuk bertahan dan beradaptasi di tengah ekosistem yang kian rusak.
Talkshow Inspiratif Bersama Tokoh Global Memasuki siang hari, rangkaian acara berlanjut ke sesi utama “Water Impact Week Festival Talkshow” yang dibuka oleh Retno Marsudi, Utusan Khusus PBB untuk Air (United Nations Special Envoy on Water), sebagai pembicara kunci (Keynote Speaker). Kehadiran Retno Marsudi memberikan wawasan strategis mengenai posisi Indonesia dalam diplomasi air global dan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mitigasi krisis air dunia. Diskusi panel juga menghadirkan deretan pakar ternama yang berbagi perspektif dari sisi kebijakan, akademis, dan industri yaitu Bapak Ivo van der Linden (Delegated Representative of Water), Bapak Dr. Arie Setiadi Moerwanto (Executive Chair of the Indonesia-Netherlands Water Partnership), Prof. Dr. Ing. Wiwandari Handayani (Kepala Departemen PWK, Universitas Diponegoro), dan Isten Sweno Tamba (Business Development Manager – Climate & Nature, PT Fugro Indonesia).
Selain kompetisi dan bincang-bincang, mahasiswa IPB juga aktif dalam sesi jejaring (Networking Session) dan mengunjungi Expo Perusahaan & Proyek Air Belanda. Melalui interaksi dengan para profesional dari mitra seperti Nuffic Southeast Asia dan Partners for Water, mahasiswa mendapatkan gambaran nyata mengenai kolaborasi di sektor manajemen sumber daya air secara global. Keterlibatan aktif komunitas bahasa Inggris IPB dalam acara internasional ini membuktikan komitmen mahasiswa dalam memperluas cakrawala intelektual sekaligus berkontribusi pada isu-isu krusial lingkungan global.




